Senin, 24 Januari 2011

URGENSI KONSERVASI SUMBERDAYA GENETIK JENIS-JENIS POHON LOKAL ANDALAN HUTAN RAKYAT UNTUK KEPERLUAN BREEDING DI MASA MENDATANG


URGENSI KONSERVASI SUMBERDAYA GENETIK JENIS-JENIS POHON LOKAL ANDALAN HUTAN RAKYAT UNTUK KEPERLUAN BREEDING DI MASA MENDATANG[1]

Oleh :
Ichsan Suwandhi[2]
E 461100021

Abstrak
Jawa Barat merupakan wilayah yang potensial dalam pengembangan hutan rakyat sebagai salah satu alternatif pemasok bahan baku kayu dan non kayu selain hutan negara.  Sistem pengelolaan hutan rakyat yang umumnya masih konvensional menyebabkan tidak optimalnya bahan baku yang dihasilkan terutama dari segi kualitas yang diharapkan.
Keberadaan hutan rakyat dengan pengelolaan yang baik sangat diperlukan untuk menjawab permasalahan di atas, peran pemuliaan menjadi isu yang sangat strategis untuk menjawab hal ini, namun rendahnya mutu bibit yang digunakan dan terkonsentrasinya pemilihan jenis tanaman pada jenis-jenis tertentu (terutama sengon dan mahoni) menjadi kendala tersendiri dalam pengembangan lebih lanjut.  Kendala lainnya adalah masih banyaknya jenis-jenis lokal yang tidak dimanfaatkan dengan baik atau bahkan masih kurang dikenal dalam dunia perdagangan.
Dalam rangka mendukung program pemuliaan pohon di masa depan, perlu dipersiapkan sumberdaya genetik dari jenis-jenis pohon lokal atau andalan setempat.  Tindakan prioritas saat ini adalah melakukan konservasi sumberdaya genetik pohon-pohon lokal terutama yang keberadaannya sudah mulai langka di hutan-hutan alam, antara lain rasamala, saninten, jamuju, puspa, suren, manglid, janitri, dan lain-lain.
Selanjutnya kegiatan konservasi genetik dapat dilakukan melalui berbagai metode.  Secara umum konservasi keragaman genetik dapat dilakukan, melalui dua pendekatan, yaitu secara in- situ, dan ex-situ. In-situ berarti melestarikan pohon dan tegakan pada sebaran alamnya, sedangkan ex-situ adalah melindungi gene atau gene complexes di kondisi buatan atau setidaknya diluar kondisi alaminya. Sering kali digunakan juga istilah gene bank sebagai pengganti istilah ex-situ apabila materi konservasi genetik yang dibangun berbentuk koleksi klon yang ada di lapangan„ kebun benih maupun pertanaman (Chomchalow, 1985). Konservasi ex-situ termasuk juga didalamnya adalah penyimpanan tepungsari (pollen) dan teknik-teknik In-vitro seperti kultur jaringan.
Kata Kunci : Konservasi Genetik; Jenis Lokal; Hutan Rakyat; Jawa Barat

Pendahuluan
Konservasi sumberdaya genetik hutan merupakan suatu kegiatan untuk mendukung strategi pemuliaan, hal ini terkait pula dengan strategi konservasi keanekaragaman hayati global untuk menyelamatkan plsamanutfah-plasmanutfah yang sudah mulai langka atau terancam kepunahan, agar kelestariannya tetap terjaga di masa datang.
Dalam kaitannya dengan program pemuliaan pohon hutan, konservasi sumberdaya genetik sangat diperlukan sebagai bahan untuk memanfaatkan perbedaan genetik antar individu dalam populasi sebagaimana disampaikan Finkeldey (2005) dengan maksud merubah rata-rata ekspresi sifat-sifat yang penting secara ekonomi sehingga mampu meningkatkan hasil (baik secara kuantitas maupun kualitas).  Pendekatan dasar dari strategi pemuliaan adalah seleksi buatan oleh para pemulia terhadap individu-individu untuk kemudian diperbanyak secara vegetatif atau generatif.
Berdasarkan uraian di atas, kunci keberhasilan suatu strategi pemuliaan pohon hutan adalah tersedianya variasi genetik dari pohon-pohon yang akan dimuliakan, semakin tinggi variasi genetik suatu spesies akan berimplikasi pada semakin tingginya informasi kualitas terhadap hasil pemuliaan yang diharapkan, dengan kata lain pemuliaan pohon tidak dapat menghasilkan pohon-pohon dengan karakter genetik tertentu apabila sumberdaya genetiknya tidak tersedia.
Dalam rangka menyelamatkan berbagai variasi genetik pohon-pohon hutan, terutama jenis-jenis lokal perlu didukung dengan kegiatan konservasi genetik untuk keperluan program-program pemuliaan pohon di masa mendatang.  Hutan rakyat sebagai salah satu alternatif penyedia bahan baku (terutama kayu) bagi industri kehutanan yang umumnya terdiri atas jenis-jenis lokal dan andalan setempat tentunya perlu dikelola dengan baik agar menghasilkan kualitas tegakan yang sesuai dengan standar kualitas pada industri, dengan demikian pemuliaan pohon dapat diterapkan dalam membangun hutan rakyat dengan standar kualitas yang diharapkan.  Konservasi genetik disamping merupakan upaya penyelamatan plasmanutfah juga akan mampu menyediakan berbagai variasi genetik yang diperlukan dalam mendukung program pemuliaan tersebut.
Rachman et al (2005) menegaskan bahwa pembangunan hutan rakyat sekarang diharapkan dapat berperan penting sebagai pemasok kayu baik untuk kebutuhan industri dalam negeri maupun ekspor. Mengingat pentingnya keberadaan hutan rakyat sebagai sumber daya hutan dan ekonomi maka pengembangan hutan rakyat semakin mendapat perhatian.  Departemen kehutanan berdasarkan arah pembangunan jangka panjang kehutanan 2006 - 2025 telah mencantumkan program peningkatan luasan hutan rakyat yang mandiri dan mendukung fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Angka luasan hutan rakyat di Indonesia masih bersifat perkiraan, sehingga belum ada angka yang akurat mengenai potensi tegakan padahutan rakyat. Djajapertjunda (2003) yang dikutip oleh Mindawati, et al dalam Review hasil penelitian hutan rakyat (2006) mengemukakan bahwa luas hutan rakyat sampai dengan tahun 2003 mencapai 1.265.000 ha yang tersebar di 24 Propinsi, dimana 500.000 ha terdapt di Pulau Jawa. Potensi tegakan hutan rakyat tersebut diperkirakan mencapai 43 juta m3, dengan jenis kayu utama sengon, jati, akasia, mahoni, sonokeling dan jenis buah-buahan.
Jawa Barat merupakan wilayah yang potensial dalam pengembangan hutan rakyat sebagai salah satu alternatif pemasok bahan baku kayu dan non kayu selain hutan negara.  Sistem pengelolaan hutan rakyat yang umumnya masih konvensional menyebabkan tidak optimalnya bahan baku yang dihasilkan terutama dari segi kualitas yang diharapkan.  Perkembangan luas dan produksi hutan rakyat terus meningkat setiap tahunnya. Data terakhir dari Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat (2007) diperoleh angka luasan sebesar 185,547,63 ha dengan produksi kayu sebesar 1.336.006,30 m3, dengan jenis kayu utama sengon, mahoni jati dan afrika.
Pesatnya perkembangan hutan rakyat di Jawa Barat terutama setelah perhatian masyarakat berorientasi pada pasar. Adanya jaminan pasar kayu yang semakin baik memberi motivasi tinggi terhadap minat masyarakat untuk menanam berbagai jenis kayu, sehingga sentra-sentra budidaya dan industri kayu hutan rakyat sudah mulai tampak dan berkembang. Meskipun konsep pengelolaan hutan rakyat lestari belum menjangkau petani hutan rakyat secara menyeluruh, perubahan orientasi kearah komersial ternyata mampu membawa pengelolaan hutan rakyat lebih bisa bertahan dibandingkan dengan hutan alam dan hutan tanaman industri. 
Berkaitan dengan orientasi dan motivasi petani menanam kayu, maka penentuan jenis pohon yang ditanam merupakan pertimbangan penting yang harus diupayakan petani. Pasar membutuhkan jenis kayu tertentu dan kualitas yang memadai untuk bahan baku industri, sehingga masyarakat petani harus tahu jenis-jenis yang dibutuhkan pasar saat ini dan jangka waktu ke depan.
Hutan rakyat selama ini masih berorientasi pada jenis-jenis pohon yang relative terbatas pada jenis-jenis tertentu antara lain sengon, mahoni, jati, suren dan afrika serta tanaman buah-buahan.  Potensi jenis-jenis kayu lokal yang sangat bervariasi tersebar di hutan-hutan alam atau yang tumbuh secara liar di pekarangan umumnya masih belum banyak disentuh, padahal dengan sumberdaya lahan yang memadai dapat lebih dioptimalkan untuk mengembangkan jenis-jenis lokal tersebut.
Pengembangan hutan rakyat di wilayah Jawa Barat di masa mendatang perlu diarahkan pada pembudidayaan berbagai jenis lokal yang ada di daerah masing-masing, hal ini dimaksudkan disamping untuk menjamin kelstarian jenis-jenis tersebut, hal ini mengingat pada hutan-hutan alam cenderung mengalami ancaman kelangkaan yang cukup tinggi akibat kerusakan habitat, juga untuk lebih mengeksplore berbagai kualitas produk sesuai yang diharapkan tanpa harus terpaku pada jenis-jenis tertentu saja.

Mengenal Variasi Genetik sebagai Komponen Pemuliaan Pohon
Dalam pohon hutan ada sejumlah kategori variasi dan dapat dikelompokan secara luas ke dalam spesies, Sumber Geografi (Provenance), tapak, lokasi, individu pohon dan variabilitas dalam individu pohon (Zobel et al. 1960b). Variasi lingkungan dapat dipahami oleh banyak forester, dan merupakan manajemen dasar dari banyak tindakan silvikultur. Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh dapat dikontrol dan dimanipulasi, sebaliknya ada yang tidak bisa.
Variasi Genetik sangat kompleks, tetapi besar dan tipenya dapat diketahui dan yang baik dapat digunakan, variasi genetik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan keuntungan dalam beberapa karakteristik pohon. Variasi genetik dapat dibagi secara umum kedalam komponen additif dan nonadditif dengan demikian variasi genetik adalah variasi additif ditambah variasi non additif.  Pada Gambar di bawah ini dapat dilihat bahwa fenotip pohon (pertumbuhan pohon) dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Gambar 1.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pohon
(Sumber : Zobel et al, 1960)

Zobel dan Talbert (1984) mengemukakan bahwa di dalam pohon hutan biasanya terdiri dari berbagai variasi dengan mengikuti kategori:
1.    Variasi Geografis (provenance)
2.    Variasi Lokasi dalam provenan-provenan
3.    Variasi Tapak dalam lokasi
4.    Variasi Individu Pohon dalam tapak
5.    Variasi Di dalam Pohon
Variasi Geografi ( atau Provenance)
Kontrol genetik akibat perbedaan geografi sangat besar, terutama terkait dengan ciri-ciri atau respon dalam beradaptasi. Perbedaan geografi di dalam jenis sering tidak mudah untuk digambarkan, dan batasan-batasan yang pada umumnya tidak terlalu jelas, kecuali jika ada perbedaan lingkungan yang jelas.  Berdasarkan hal tersebut maka informasi sebaran alami atau asal usul tempat tumbuh  alami suatu jenis menjadi syarat kunci dalam mengelola jenis-jenis tanaman
Variabilitas antar Lokasi
Di dalam suatu provenans terdapat variasi-variasi berdasarkan perbedaan lokasi; yang diindikasikan oleh perbedaan karakter yang dimiliki oleh individu-individu yang tumbuh pada lokasi berbeda, misalnya pada dataran rendah dengan dataran tinggi.
Perbedaan antar tapak di dalam Lokasi
Perbedaan tapak atau tempat tumbuh spesifik ternyata juga menghasilkan variasi pertumbuhan yang berbeda pada berbagai jenis pohon dan individu.  Pohon-pohon yang tumbuh pada kondisi tanah basah cenderung berbeda karakternya dengan yang tumbuh pada tanah kering.  Berbagai variasi tapak sangat umum dijumpai, antara lain lahan dengan lereng curam berbeda dengan lahan yang landai, lahan berbatu dan sebagainya.
Perbedaan Pohon di dalam suatu tapak
Individu dari suatu jenis pohon sering sangat bervariasi satu sama lain bahkan ketika tumbuh pada tapak yang sama. Perbedaan ini merupakan indikasi penting variasi genetic antar pohon, para ahli genetika umumnya menggunakan variasi ini dalam program seleksi dan breeding. Hasil berbagai pengamatan menunjukkan dua pohon dengan umur yang sama dan tumbuh bersama pada pada tapak yang sama ternyata memiliki karakter yang berbeda antara lain kualitas kayu yang dihasilkan, resistensi terhadap hama, dan bahkan dalam bentuk pertumbuhan.
Variasi di dalam Pohon
Di dalam suatu pohon, variabilitas dapat terjadi untuk beberapa karakteristik, antara lain adalah perbedaan berat jenis kayunya pada berbagai titik yang berbeda dari pangkal batang sampai ujung. Dalam pohon besar perbedaan terjadi untuk karakteristik daun-daunan, sebagai contoh, daun terbuka dan daun ternaung pada pohon yang sama ternyata menghasilkan bentuk dan tipe yang berbeda.

Hasil-Hasil Studi Sumberdaya Genetik Pohon Hutan
Pengelolaan materi genetik lewat program selfing untuk sifat tertentu dan out-crossing untuk memperluas basis genetik sangat bermanfaat dalam memantau populasi breeding, sehingga kinerja program pemuliaannya dapat diprediksi secara lebih akurat.
Pentingnya pengelolaan sumberdaya genetik untuk beberapa komoditas penting tanaman kehutanan dapat dicontohkan diantaranya adalah dari analisis isoenzyme dengan 3 sistem enzim (EST, GOT, ShDH) dan 7 alle pada populasi hutan tanaman dan kebun benih Pinus merkusii di Jawa memiliki variasi genetik yang moderat ditunjukkan oleh nilai He (expected herezygosity) berkisar 0,259 (Na'iem and Indrioko, 1996). Sedangkan pada populasi hutan alam di Aceh variasi genetik sangat besar yaitu sebesar 0,304 (Na'iem, 2000).
Untuk keperluan breeding lebih lanjut maka adanya infusi genetik dari populasi alami kiranya perlu dilakukan.  Demikian juga observasi yang dilakukan pada Jati (Tectona grandis) di Indonesia, menunjukkan bahwa dengan menggunakan 10 allozyme loci ditemukan bahwa jati di Indonesia memiliki keragaman genetik yang rendah dibanding dengan Jati India maupun Thailand (Kartadikara ,1995). Namun demikian penampilan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya, seperti veneer, doreng, sungu, lengo, keling, more, kapur, duri dan lain lain.
Pada saat ini konsumen cenderung memerlukan jati veneer berbatang lurus, dengan tekstur halus dan tidak berwarna. Namun bukan tidak mungkin karena perubahan pasar varietas lain juga akan dicari oleh konsumen. Sehubungan dengan itu konservasi plasma nutfah jati yang saat ini sedang dirintis, serta rencana pertukaran materi genetik untuk memperluas basis genetik dari negara sebaran alami jati dari negara menjadi hal yang sangat penting.
Keragaman genetik Acacia mangium sebagai species andalan HTI di Indonesia dalam memproduksi bubur kertas, dilaporkan bahwa antara populasi ras lahan di Subanjeriji, di Sumatra Selatan dengan beberapa populasi alam Maluku, Irian Jaya, Papua New Guinea dan Queensland dengan menggunakan penanda RFLP (Ristriction Fragmefit Length Polymorphism) menunjukkan bahwa hutan tanaman di Subanjeriji hanya memiliki 56% dari tingkat keragaman yang dimiliki oleh populasi alami (Butcher et al. 1996).  Sementara dibanding dengan Acacia lainnya yaitu A. ardacocarpa, A.crassicarpa dan A. auriculiformis, dengan menggunakan penanda RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) maupun dengan penanda isozyme (Rimbowanto, 2000; Moran et al. 1989) ternyata A. mangium memiliki keragaman yang paling rendah. Dengan hasil ini jeias keberadaan areal plasma nutfah baik A. mangium sebagai bahan infusi genetik maupun jenis Acasia lainnya sebagai materi untuk hibridisasi sangat diperlukan.
Demikian halnya dengan Paraserianthes falcataria, species primadona kayu pertukangan yang saat ini banyak dikembangkan di hutan rakyat terutama pada areal-areal dengan elevasi tinggi, juga menunjukkan kecenderungan bahwa hutan tanaman memiliki variasi genetik yang rendah. Seido et al. (1993), melaporkan bahwa keragaman genetik dengan 4 allozyme loci sebagai penanda menunjukkan bahwa populasi hutan tanaman P. falcataria di Jawa (Bogor, Purworejo dan Kediri) memiliki keragaman yang rendah dan hampir sama antar populasi. Tingkat keragaman ini jauh lebih rendah dibanding keragaman populasi alami dari Wamena Irian Jaya. Hasil uji provenan dan uji keturunan P.. falcataria di beberapa lokasi juga menunjukkan bahwa provenan Wamena dan Solomon memiliki pertumbuhan yang jauh lebih bagus dibanding provenan sengon dari Jawa. Perpaduan antara hasil penelitian molekuler genetik di laboratorium dan observasi pertumbuhan langsung dilapangan ini memberikan informasi yang lebih lengkap tentang pentingnya konservasi sumberdaya genetik dalam meningkatkan produktivitas hutan.
Dalam upaya pembudidayaan dan pengembangan indigenous species seperti jenisjenis Shorea atau fam. Dipterocarpaceae secara umum, perlunya konservasi areal plasma nutfah kiranya tidak dapat ditunda lagi. Informasi pelaksanaan proyek Exsitu Conservation of Shorea leprosula and Lophopetalum multinervium and their use for Future Breeding and Biotechnology, menunjukkan bahwa upaya mengumpulakan materi S. leprosula baik dalam bentuk biji maupun wilding bukan lagi merupakan pekerjaan yang mudah karena deforestasi, fragmentasi, dan bencana alam (ITTO project PD 16/96 Rev. 4(F). Seiring dengan semakin sulitnya pengumpulan materi genetik berbagai shorea yang umunrnya bernilai ekonomis tinggi, beberapa jenis species rawa dan pantai seperti pulai (Alstonia sp.) jelutung (Diera sp), prupuk (Lophopetalum sp), Nyamplung (Canophyllum sp. ) dan ramin (Gonystilus sp) juga sudah semakin langka. Melengkapi informasi kelangkaan , tersebut, maka keberadaan beberapa kayu mewah seperti kayu besi (Eusideroxylon zwageri) , Cendana (Santalum album), Eboni (Diospyros celebica), Kayu kuku (Pericopsis moonia), merbau (Instia bijuga), damar (Agathis sp), Dipterocarpus sp dan jenis Shorea lainnya juga sudah mulai sulit ditemukan.
Padahal kelangkaan jenis jenis ini selalu diikuti oleh perubahan atau hilangnya jenis asosiasi yang sebelumnya ada dalam habitat klimak. Dan apabila ini terjadi maka pasti sangat banyak materi genetik yang belum sempat dikembangkan dan dimanfaatkan terutama untuk keperluan industri hutan non kayu (obat-obatan, kosmetik, rempah-rempah, industri warna alami dan lain lain.) telah terlanjur punah sebelum sempat dimanfaatkan.
Adanya perkembangan baru bidang bioteknologi menghasilkan hubungan yang sangat potensial dan produktif dalam memanfaatkan keragaman sumberdaya genetik secara lestari. Dengan bioteknologi akan dapat meningkatan nilai keragaman genetik suatu species baik yang terdapat dialam maupun pada tanaman yang telah terdomestikasi. Bioteknologi dapat berperan dalam mentransfer materi genetik dari suatu negara atau tempat dimana mereka berasal ke negara atau tempat dimana mereka diperlukan. Untuk komoditas tanaman perkebunan yang telah lama didomestikasi dan dimuliakan serta secara umumnya lebih bernilai ekonomis, teknik ini telah dimanfaatkan dengan baik. Seperti sawit, coklat, ketela pohon, karet, jagung, umbi-umbian dan beberapa buah buahan yang sebenarnya berasal dari Africa atau America Latin telah dikembangkan secara besar besaran di Asia. Sebaliknya beberapa tanaman yang berasal dari negara berkembang seperti kopi, pisang tebu telah optimal dikembangkan di America (Mc. Neely, 1993). Sudah barang tentu untuk upaya pemuliaan lebih lanjut dari komuditas perkebunan ini perlu ditunjang dengan pertukaran materi genetik secara kontinyu.
Demikian pula halnya dengan komoditas kehutanan, terutama untuk tujuan breeding dan pengembangan jenis-jenis yang bernilai ekonomis tinggi, benih bersifat rekalsitran ataupun jenis jenis yang sudah mulai langka dan terancam keberadaanya dimasa mendatang, maka peran bioteknologi menjadi alternatif pilihan yang layak dipertimbangkan. Untuk itu semua keberadaan areal sumber daya genetik menjadi sangat penting dan perlu dipertahankan.

Hutan Rakyat sebagai Pemasok Bahan Baku Jenis-Jenis kayu Lokal dan Andalan
Hutan rakyat adalah hutan-hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat,  kebanyakan berada di atas tanah milik atau tanah adat; meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan negara.  Secara teknik, hutan-hutan rakyat ini pada umumnya berbentuk wanatani; yakni campuran antara pohon-pohonan dengan jenis-jenis tanaman bukan pohon. Baik berupa wanatani sederhana, ataupun wanatani kompleks (agroforest) yang sangat mirip strukturnya dengan hutan alam.
Ada beberapa macam hutan rakyat menurut status tanahnya. Di antaranya:
-       Hutan milik, yakni hutan rakyat yang dibangun di atas tanah-tanah milik. Ini adalah model hutan rakyat yang paling umum, terutama di Pulau Jawa. Luasnya bervariasi, mulai dari seperempat hektare atau kurang, sampai sedemikian luas sehingga bisa menutupi seluruh desa dan bahkan melebihinya.
-       Hutan adat, atau dalam bentuk lain: hutan desa, adalah hutan-hutan rakyat yang dibangun di atas tanah komunal; biasanya juga dikelola untuk tujuan-tujuan bersama atau untuk kepentingan komunitas setempat.
-       Hutan kemasyarakatan (HKm), adalah hutan rakyat yang dibangun di atas lahanlahan milik negara, khususnya di atas kawasan hutan negara. Dalam hal ini, hak pengelolaan atas bidang kawasan hutan itu diberikan kepada sekelompok warga masyarakat; biasanya berbentuk kelompok tani hutan atau koperasi. Model HKm jarang disebut sebagai hutan rakyat, dan umumnya dianggap terpisah.
Namun kini ada pula bentuk-bentuk peralihan atau gabungan. Yakni model-model pengelolaan hutan secara bermitra, misalnya antara perusahaan-perusahaan kehutanan (Perhutani, HPH, HPHTI) dengan warga masyarakat sekitar; atau juga antara pengusaha-pengusaha perkebunan dengan petani di sekitarnya. Model semacam ini, contohnya PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), biasanya juga tidak digolongkan sebagai hutan rakyat; terutama karena dominasi kepentingan pengusaha.
Pengelolaan hutan rakyat secara komersial telah dimulai semenjak beberapa ratus tahun yang silam, terutama dari wilayah-wilayah di luar Jawa. Hutan-hutan atau tepatnya, kebun-kebun rakyat dalam rupa hutan-- ini menghasilkan aneka komoditas perdagangan dengan nilai yang beraneka ragam. Terutama hasil-hasil hutan non-kayu (HHNK). Bermacam-macam jenis getah dan resin, buah-buahan, kulit kayu dan lain-lain. Bahkan kemungkinan aneka rempah-rempah yang menarik kedatangan bangsa-bangsa Eropah ke Nusantara, sebagian besarnya dihasilkan oleh hutan-hutan rakyat ini.
Belakangan ini hutan-hutan rakyat juga dikenal sebagai penghasil kayu yang handal. Sebetulnya, semua jenis hutan rakyat juga menghasilkan kayu. Akan tetapi pada masa lalu perdagangan kayu ini ‘terlarang’ bagi rakyat jelata. Kayu mulai menjadi komoditas diperkirakan semenjak zaman VOC, yakni pada saat kayu-kayu jati dari Jawa diperlukan untuk membangun kapal-kapal samudera dan benteng-benteng bagi kepentingan perang dan perdagangan. Pada saat itu kayu jati dikuasai dan dimonopoli oleh VOC dan raja-raja Jawa. Rakyat jelata terlarang untuk memperdagangkannya, meski tenaganya diperas untuk menebang dan mengangkut kayu-kayu ini untuk keperluan raja dan VOC.
Monopoli kayu oleh penguasa ini dilanjutkan hingga pada masa kemerdekaan. Di Jawa, hingga saat ini petani masih diharuskan memiliki semacam surat pas, surat izin menebang kayu dan surat izin mengangkut kayu; terutama jika kayu yang ditebang atau diangkut adalah jenis yang juga ditanam oleh Perum Perhutani.  Misalnya jati, mahoni, sonokeling, pinus dan beberapa jenis lainnya. Di luar Jawa, setali tiga uang. Hak untuk memperdagangkan kayu sampai beberapa tahun yang lalu masih terbatas dipunyai oleh HPH-HPH, sebagai perpanjangan tangan negara.
Berdasarkan hasil penafsiran citra Landsat (BPKH IX Departemen Kehutanan, 2009) diperoleh bahwa luas hutan rakyat Provinsi Jawa Barat 973.860,00 Ha (26,28% dari luas Provinsi Jawa Barat) dengan sebaran sebagai berikut : seluas 180.555,19 Ha (19%) terdapat di hilir DAS, 384.440,95 Ha (39%) terdapat di hulu DAS dan 408.863,85 Ha (42%) terdapat di tengah DAS. Mayoritas hutan rakyat terdapat pada bagian tengah DAS, dan luasan terkecil berada di bagian hilir. Kawasan hilir merupakan wilayah yang rentan terhadap berbagai dampak lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah hulu dan tengah DAS.
Berdasarkan potensi di atas maka hutan rakyat Jawa Barat merupakan andalan dalam memasok bahan-bahan baku kayu maupun non kayu baik untuk keperluan lokal maupun nasional, hal ini terutama dilihat dari potensi jenis-jenis kayu lokal yang pada saat ini telah diminati oleh industri seperti sengon, manglid, suren, nangka, sukun, dan lain-lain.

Urgensi Konservasi Genetik Pohon-pohon Lokal Jawa Barat
Pemuliaan tanaman hutan memerlukan keragaman genetik yang luas untuk mendapatkan kemajuan genetik (genetic gain) yang tinggi (Zobel dan Talbert, 1984). Keragaman genetik dapat diartikan sebagai variasi gen dan genotipe antar dan dalam species (Melchias, 2001).  Keragaman genetik dalam species memberikan kemampuan untuk beradaptasi atau melawan perubahan lingkungan dan iklim atau hama dan penyakit baru. Kemampuan tanaman untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan tempat tumbuh dan gangguan hama/penyakit ditentukan oleh potensi keragaman genetik yang dimilikinya.
Keragaman genetik mempunyai peranan yang sangat penting dalam program pemuliaan, karena optimalisasi perolehan genetik akan sifat-sifat tertentu dapat dicapai apabila cukup peluang untuk melakukan seleksi gen terhadap sifat yang diinginkan sebagai contoh adalah resistensi terhadap hama atau tertentu.  Basis genetik yang luas perlu tetap dipertahankan bahkan dikembangkan, sebab bukan saja untuk mempertahankan sifat yang telah ada tetapi untuk memperoleh sifat baru yang diinginkan dan sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang beragam (Wright, 1976).
Berbagai pihak baik para ahli biologi konservasi maupun praktisi pada saat ini telah menggiatkan upaya-upaya pada konservasi keaneragaman hayati untuk semua tingkat taksonomi, termasuk tingkat keaneragaman genetik di dalam suatu jenis.  Pemuliaan pohon hutan telah diakui tidak hanya bertujuan untuk melakukan konservasi keragaman genetik.  Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa variasi genetik merupakan komponen penting dari biodiversity. 
Sumberdaya genetik pohon hutan pada saat ini telah mengalami keterancaman yang cukup tinggi, terutama oleh aktivitas-aktivitas yang dilakukan manusia terhadap hutan yang cenderung mengakibatkan menurunnya keragaman genetik.  Pada hutan-hutan alam produksi yang ada di luar Pulau Jawa umumnya mengalami kerusakan yang sangat parah akibat Sustainable Forest Management tidak berjalan dengan baik, selain itu juga tingginya aktivitas masyarakat sekitar hutan dalam memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan pertanian, kebijakan yang cenderung mengarah pada konversi lahan hutan untuk penggunaan lain, dan sebagainya.  Pada akhir dasawarsa ini ancaman tidak hanya mengarah pada hutan-hutan produksi, tetapi lebih jaun telah mengancam hutan-hutan lindung dan konservasi.
Di Pulau Jawa sendiri terjadi ancaman penurunan keanekaragaman hayati terutama tingginya tekanan social ekonomi masyarakat sekitar hutan, pembudidayaan jenis yang cenderung terbatas pada jenis tertentu terutama di hutan rakyat, dan kontroversi ketimpangan yang terjadi antara kebijakan pusat dengan daerah dalam kaitannya dengan pengurusan hutan.  Beberapa materi genetik mungkin telah hilang sebelum sempat dikenal dan dimanfaatkan.
Finkeldey (2005) menjelaskan, konservasi keragaman genetik dan pemanfaatan hasil hutan secara prinsip mempunyai hubungan yang harmonis.  Tujuan konservasi genetik adalah untuk preservasi informasi dan bukan untuk bahan biologi.  Setiap individu membawa informasi genetik yang mungkin berbeda dengan individu lainnya, hal ini menjadi penting untuk melestarikan setiap informasi genetik yang dimiliki oleh masing-masing individu dari suatu spesies.  Kegiatan konservasi genetik yang terarah akan menjamin keberlangsungan pembangunan hutan pada masa yang akan datang dengan menggunakan materi-materi genetik yang tetap tersedia.
Secara khusus konservasi genetik dilakukan berdasarkan prioritas tertentu yang dimiliki suatu populasi, antara lain didasarkan pada pentingnya suatu populasi, jenis atau sekumpulan jenis dan tingkat bahaya dari sumberdaya genetik tersebut.  Tindakan konservasi genetik untuk suatu jenis harus segera dimulai mengingat kepentingan ekonomi dan silvikultur atau ekologi.  Gabungan antara pemuliaan dan tindakan konservasi genetik sebaiknya dilakukan juga untuk jenis-jenis yang secara potensial penting.
Lebih lanjut Finkeldey (2005) menyarankan evaluasi sumberdaya genetik perlu dilakukan terhadap jenis-jenis yang kurang atau tidak dikenal.  Pola spasial dari variasi genetik sebaiknya diamati pada lokus penanda gen dan paa karakter kuantitatif yang diuji di lapangan.
Na’iem (2001) juga menegaskan, keinginan melestarikan materi genetik untuk keperluan breeding pada saat sekarang dan keperluan untuk mendapatkan jenis tanaman dengan sifat adaptasi tinggi terhadap lingkungan walaupun sifat tersebut masih belum terlihat kemanfaatannya saat ini, menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Adapun sifat yang bernilai ekonomi tinggi tersebut yang hingga kini masih belum dikaji secara intensif, misalnya adalah jenis jenis yang berpotensi untuk menghasilkan zat bioaktif, penghara industri masa depan, bahan konstruksi, penyerap C02 optimal dan lain sebagainya.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka untuk konservasi genetik dan pemuliaan pohon sangat urgen dilakukan pada jenis-jenis lokal dan andalan setempat yang ada di wilayah Jawa Barat terutama untuk pengkayaan produksi kayu dari hutan-hutan rakyat.  Jenis-jenis lokal masih banyak dijumpai di hutan-hutan alam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, namun mengingat jenis-jenis tersebut umumnya berada di dalam kawasan konservasi menjadi tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan.  Langkah yang paling efektif adalah mengembangkan budidaya terhadap jenis-jenis tersebut  di luar kawasan hutan.  Beberapa jenis lokal yang memiliki nilai komersial tinggi untuk produksi kayu antara lain : puspa, rasamala, janitri, manglid, pasang, saninten, kedoya dan huru.  Apabila variasi genetik dari jenis-jenis tersebut tidak segera dikonservasi maka tidak menutup kemungkinan beberap materi genetik akan semakin menuju kepunahan akibat gangguan-gangguan yang terjadi terhadap jenis maupun habitatnya di hutan alam. 
Selain jenis-jenis lokal, jenis-jenis andalan yang saat ini telah dikembangkan pada hutan-hutan rakyat seperti sengon, mahoni dan suren juga perlu mendapat perhatian untuk diperoleh sedetail mungkin informasi genetiknya dan prospek strategi pemuliaannya di masa mendatang, sehingga kualitas tegakan dan kayu yang dihasilkan dapat memenuhi standar kualitas yang diinginkan. 
Rachman et al. (2005) telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat 7 jenis pohon yang dapat dikembangkan dengan baik pada hutan rakyat di Jawa Barat berdasarkan pertimbangan prioritas nilai komersial yang dimiliki, ketujuh jenis tersebut yaitu : sengon, mahoni, suren, manglid, rasamala, pulai dan mindi. 
Mengacu pada uraian Rachman et al (2005) tersebut maka urgensi konservasi genetik dan pemuliaan pohon dapat diprioritaskan terhadap 7 jenis tersebut, disamping tetap melakukan eksplorasi dan uji-uji genetik untuk jenis-jenis lainnya untuk keperluan pelestarian sumberdaya genetik dan pemuliaan pohon di masa mendatang. 
Deskripsi 7 jenis pohon hutan rakyat Jawa Barat disajikan sebagai berikut :
1.      Sengon (Parasertianthes falcataria)
Tanaman sengon merupakan jenis tanaman primadona dan paling dominan ditanam di areal hutan rakyat. Hal ini disamping tanamannya termasuk kedalam jenis tanaman yang tumbuh cepat, juga pemasarannya mudah dan terbuka lebar. Berbagai industri kecil pengolahan kayu sengon untuk berbagai keperluan bermunculan sampai ke plosok desa yang menyerap semua pasokan kayu sengon dari hutan rakyat. Walaupun kayunya termasuk kayu ringan yang membatasi penggunaannya namun perkembangan teknologi pengolahan hasil memungkinkan deversifikasi penggunaan yang lebih luas antara lain untuk peralatan ringan dan perlengkapan interior. Dapat digunakan sebagai sumber energi dan baik untuk bahan pulp dan kertas.
2.      Mahoni (Switenia macrophylla)
Tanaman mahoni hampir sama populernya dengan tanaman sengon sehingga banyak dipilih oleh petani untuk ditanam di areal hutan rakyat. Berbeda dengan sengon tanaman ini tumbuh lebih lambat dengan daur 15 – 20 tahun. Pemasaran kayunya juga terbuka lebar baik untuk konsumsi lokal, regional, nasional maupun export. Sifat kayunya lebih kuat dari tanaman sengon sehingga penggunaannya lebih luas sebagai kayu pertukangan untuk bangunan rumah,jembatan dan sebagainya, disamping untuk mebel, cabinet, barang bubutan, popor senapan, lantai, dinding hias serta untuk venire muka. Kayu ini dapat digunakan untuk energi namun kurang baik untuk pulp dan kertas.
3.      Suren (Toona sinensis)
Sering ditanam di perkebunan teh sebagai pemecah angin. Jenis ini cocok sebagai naungan dan pohon di sepanjang tepi jalan. Di areal hutan rakyat di Jawa Barat. Jenis ini banyak ditanam Kayunya bernilai tinggi dan mudah digergaji serta memiliki sifat kayu yang baik.  Kayunya sering digunakan untuk lemari, mebel, interior ruangan, panel dekoratif, kerajinan tangan, alat musik, kotak cerutu, finir, peti kemas, dan konstruksi bahan bangunan rumah. Beberapa bagian dari pohon terutama kulit dan akar sering digunakan sebagai bahan baku obat diare dan tonik; ekstrak daun berguna sebagai antibiotik.
4.      Manglid (Manglieta glauca BI)
Pohon manglid dapat mencapai tinggi maksimum 40 m dengan garis tengah 150 cm. Pohon anglid pertumbuhannya cepat yaitu mampu mencapai tinggi 4 m - 6 m dalam waktu 5 tahun. Di Jawa Barat kayu jenis ini sangat disukai karena selain kayunya mengkilat, strukturnya padat, halus, ringan dan kuat. Kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III dan keawetannya kelas II. Adapun keuntungan dari kayu manglid tersebut karena ringan yaitu dengan berat jenis (b.j) 0,41 sehingga mudah dikerjakan, dan karena kekuatan dan keawetannya jenis kayu tersebut sering dijadikan bahan baku pembuatan jembatan, perkakas rumah dan barang-barang hiasan; patung dan ukiran dan ini banyak ditemukan di daerah bali (Prosea, 1998 dalam Rimpala 2001).
Penyebaran: Terdapat secara alami di Jawa, Sumatera, Bali, Lombok dan Sulawesi dalam hutan primer pada tanah pasir atau tanah liat. Manglid tumbuh dengan baik pada ketinggian 900 mdpl - 1700 mdpl dalam hutan campuran yang lembab, pada tanah yang subur dan selalu lembab.  Kegunaan: pembuatan keperluan rumah tangga (meja, kursi, lemari dan lain-lain). Sedangkan kayu yang berkualitas baik untuk bangunan rumah dan pembangunan jembatan, pelapis kayu dan plywood. Di Bali kayu ini dikenal untuk pembuatan kerajinan tangan dan ukiran. Di jawa tengah dan dan Jawa Timur jenis ini kurang dikenal sehingga jarang dimanfaatkan. Di Jawa Barat kayu ini digunakan untuk pengembangan agroforestry pada progam social forestry (Rimpala, 2001).
5.      Rasamala (Altingia excelsa)
Rasamala merupakan pohon dengan tinggi 40 m – 50 m; pepaga berpermukaan halus, abu-abu muda hingga kekukningan atau abuabu kecoklatan; daun menjorong hingga melonjong atau membundar telur melanset; tepi bergigi hingga beringgit kelenjar; pembungaan bongkol, bongkol jantan dengan jumlah bunga 6-14 dalam tandan, menjorong; bongkol betina berjumlah 4-18 membulat hingga agak membulat; buah coklat muda, berbulu balig di ujungnya, setiap bongkol 4-18 (Sunarno dan Rugayah, 1992).  Persebaran : Rasamala terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Jawa Barat. Rasamala tumbuh pada tanah sarang, tanah berpasir atau tanah berbatu dan lebih menyukai tanah yang subur, umumnya pada lapangan yang miring di kaki bukit dan pegunungan. Jenis ini menghendaki iklim yang basah dan kemarau yang sedang dengan tipe curah hujan A-B pada ketinggian 500 – 1500 m dpl (Martawijaya, 1989). 
Kegunaan: kayu rasamala bisa dipakai untuk tiang dan balok rumah dan jembatan, juga banyak dipakai untuk tiang listrik dan telepon setelah diawetkan (Martawijaya, 1989). Selain itu damar dimanfaatkan pohon-pohonan untuk menambal luka pada kulitnya. Pada saat ini, orang mencari damar rasamala untuk bahan obat dan parfum.  Pucuk rasamala dapat meredakan batuk bila dimakan dan orang sunda memakannya sebagai lalaban, sebagian orang percaya bahwa ekstraknya dapat memperkuat otak. Sedangkan kulitnya dapat diekstrak untuk mendapatkan zat pewarna (Mulyana dkk, 2003). Jenis ini banyak digunakan sebagai kayu konstruksi, tajuk yang rindang dan perakarannya yang kuat menyebabkan pohon ini termasuk jenis yang cukup baik dalam melindungi kesuburan tanah dan pencegahan banjir. Keberadaan jenis ini mulai langka, dikarenakan banyaknya yang tumbang dan mati akibat seleksi alam, sehingga untuk mempertahankan rasamala dari kepunahan perlu adanya kegiatan pengembangan budidaya.
6.      Pulai (Alstonia scholaris)
Deskripsi: pohon mencapai tinggi 40 m, tinggi bebas cabang mencapai 28 m, diameter setinggi dada mencapai 150 cm. Bentuk batang silindris, memiliki percabangan berkarang dan bertingkat sehingga bentuknya seperti pagoda. Pulai termasuk jenis kayu ringan dengan berat jenis bervariasi antara 0,27 – 0,49. termasuk kelas kuat IV-V dan kelas awet V. Warna kayu putih krem.  Persebaran: hampir seluruh Pulau di Indonesia, Semenanjung Malaya dan Asia Tropik Kegunaan: pembuatan peti, korek api, hak sepatu, barnag kerajinan seperti wayang golek, dan topeng, cetakan beton, pensil (Mashudi, 2005). 
Pembibitan: Pengadaan bibit pulai secara generatif dilakukan dengan menyemai benih pulai dalam media pasir. Benih akan berkecambah serempak pada hari keempat sampai keenam setelah tabur. Pada saat berumur 7 minggu setelah berkecambah atau semai telah memiliki daun 2-5 helai, dilakukan penyapihan (pricking) dengan media sapih yang digunakan adalah top soil. Selama ditingkat sapihan semai ditempatkan di bawah naungan dan dipelihara secara rutin sampai bibit siap tanam yaitu umur 4-6 bulan dari penyemaian dengan tinggi bibit sekitar 25 cm - 30 cm. Bibit dari meteri vegetatif dapat diperoleh melalui stek batang dan stek pucuk kebun pangkas (Anonim, 2004).
7.      Mindi (Melia azedarach)
Pohon besar tinggi mencapai 45 m dengan diameter mencapai 60 cm - 150 cm. Batang silindris tidak berbanir. Tajuk membulat menyerupai payung dengan percabangan melebar, termasuk jenis cepat tumbuh, selalu hijau di daerah tropis basah tetapi menggugurkan daun selama musim dingin di daerah iklim sedang (temperate), suka cahaya, agak tahan kekeringan, agak tahan terhadap salinitas tanah dan suhu di bawah titik beku serta tahan terhadap kondisi dekat dengan pantai, tetapi tumbuhan ini sensitif terhadap api. Persebaran : tumbuh alami di India dan Burma, kemudian banyak ditanam didaerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia. Di Indonesia banyak ditanam di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Kalimantan dan Maluku. Tempat tumbuh mulai dataran rendah sampai dataran tinggi (0-1200 m dpl), suhu minimum -5 oC – 39 oC. Dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, tumbuh subur pada tanah berdrainase baik, tanah yang dalam, tanah liat berpasir; Toleransi terhadap tanah dangkal, asin dan bersifat basa. Kegunaan : mebel, kayu lapis, kayu indah dan vener lamina indah. Daun dan biji untuk pestisida alami (wardani dkk. Dalam anonym 2006).
Selanjutnya kegiatan konservasi genetik dapat dilakukan melalui berbagai metode.  Secara umum konservasi keragaman genetik dapat dilakukan, melalui dua pendekatan, yaitu secara in- situ, dan ex-situ. In-situ berarti melestarikan pohon dan tegakan pada sebaran alamnya, sedangkan ex-situ adalah melindungi gene atau gene complexes di kondisi buatan atau setidaknya diluar kondisi alaminya. Sering kali digunakan juga istilah gene bank sebagai pengganti istilah ex-situ , bilamana materi konservasi genetik yang dibangun berbentuk koleksi klon yang ada di lapangan„ kebun benih maupun pertanaman (Chomchalow, 1985). Konservasi exsitu termasuk juga didalamnya adalah penyimpanan tepungsari (pollen) dan teknik-teknik In-vitro seperti kultur jaringan.
Dalam rangka pengembangan pemuliaan untuk jenis-jenis lokal dan andalan hutan rakyat, pendekatan secara ex-situ nampaknya lebih memungkinkan.  Finkeldey (2005) memberikan istilah konservasi ex-situ dinamis, yaitu preservasi populasi di dalam hutan buatan yang terdiri dari tanaman hasil perbanyakan secara generatif di luar habitat alaminya.  Konservasi ex-situ dinamis mempunyai arti khusus sebagai metode pelengkap untuk konservasi sumberdaya genetik jenis-jenis tanaman potensial untuk pemuliaan dan hutan tanaman.
Selanjutnya pembangunan  tegakan provenans dapat dipandang sebagai suatu tipe tegakan konservasi ex-situ di dalam kerangka kerja evaluasi sumberdaya genetik, hal ini memungkinkan untuk mengkombinasikan konservasi sumberdaya genetik ex-situ dinamis ke dalam tegakan provenans dan tegakan hutan lainnya dengan memproduksi bahan-bahan reproduktif untuk pembangunan hutan rakyat.
Dengan pendekatan di atas, berbagai jenis tanaman dapat dikombinasikan ke dalam satu tegakan ex-situ atau dapat juga secara terpisah.  Dalam hal ini sistem perkawinan dan aliran gen dipengaruhi oleh pengaturan kerapatan populasi, struktur tegakan, dan susunan spasial tanaman.  Finkeldey (2005) menjelaskan lebih lanjut bahwa konservasi sumberdaya genetik ex situ dinamis secara prinsip cocok dengan tujuan pemuliaan pohon.  Disamping itu pendekatan ini juga memiliki keunggulan praktis dimana lokasi untuk membangun kawasan konservasi genetik ex situ dapat dipilih dan ditetapkan secara bebas, sehingga akan sangat cocok dikembangkan pada lahan-lahan masyarakat untuk mendukung pembangunan dan pengelolaan hutan rakyat yang berkualitas.
Kultur jaringan merupakan metode pendekatan secara ex situ lainnya dan dapat digunakan untuk keperluan konservasi, serta merupakan perbanyakan vegetatif dari genotipe secara in-vitro.  Kultur jaringan dari sebagian besar jenis dapat dipertahankan untuk jangka lama jika diberi kondisi yang cocok seperti temperature dan cahaya yang rendah di dalam media yang tepat.  Namun demikian pendekatan secara bioteknologi melalui kultur jaringan tidak cukup mendesak untuk diterapkan dalam rangka konservasi genetik hutan, apalagi dalam kaitannya dengan pembangunan hutan rakyat.  Pendekatan-pendekatan secara konvensional justru lebih prioritas untuk segera dilakukan agar kebutuhan bahan-bahan untuk kegiatan pemuliaan di masa mendatang dapat dipenuhi.

Kesimpulan
Berdasarkan seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hutan rakyat Jawa Barat memiliki potensi yang cukup tinggi dalam mendukung pembangunan sector kehutanan, terutama  untuk memasok kebutuhan bahan baku kayu yang berasal dari jenis-jenis lokal.
Dalam rangka mendukung kualitas tegakan hutan rakyat yang dibangun dan hasil yang sesuai dengan persyaratan bahan baku, maka diperlukan program-program pemuliaan pohon, dan dalam rangfka mendukung keperluan ini diimbangi dengan tindakan-tindakan yang bersifat mengkonservasi genetik jenis-jenis lokal Jawa Barat secara ex situ dinamis melalui pembangunan tegakan-tegakan provenans.
Disamping hal di atas, konservasi genetik akan menjamin tetap terjaganya berbagai variasi genetik yang dimiliki jenis-jenis lokal dan andalan setempat di Jawa Barat khususnya. 
Tujuan utama program konservasi sumberdaya genetik pada dasarnya bukan mempreservasi rangkaian nukleotida DNA dari berbagai organism, tetapi lebih pada membangun populasi yang dapat beradaptasi dengan lingkungan baik pada masa sekarang maupun yang akan datang.


Rekomendasi
Hal-hal yang perlu segera ditindaklanjuti dalam rangka mendukung pembangunan hutan rakyat yang berkualitas di Jawa Barat adalah :
1.    Diperlukan penelitian terkait aspek genetik dari jenis-jenis lokal di berbagai daerah di Jawa Barat
2.    Diperlukan upaya konservasi genetik ex situ dinamis terhadap jenis-jenis target
3.    Peningkatan pemahaman dan pengetahuan para pelaku pengelola hutan rakyat melalui pendidikan dan pelatihan disertai praktek-praktek, hal ini tentunya perlu didukung oleh peran akademisi dan peneliti.
4.    Diperlukan kebijakan pemerintah yang mendukung program pemuliaan dan konservasi genetik

Daftar Pustaka
Balai Pemantapan Kawasan Hutan Jawa dan Madura.  2009.  Potret Hutan Jawa Barat.  BPKH IX. Yogyakarta.
Finkeldey, R.  2005. Introduction to Tropical Forest Genetiks.  Institute of Forest Genetiks and Forest Tree Breeding University of Gottingen.
Genetik_dna_tree_programme_improvement. http://www.irwantoshut.net.
Konsistensi-konservasi-genetik.  http://rulzglory.blogspot.com/2010/05.
Na’iem, M, 2001. Konsevasi Sumberdaya Genetik untuk Pemuliaan Pohon. Seminar Sehari 70 Tahun Prof. Oemi H. Suseno; Peletakan Dasar-dasar dan Strategi Pemuliaan Pohon Hutan di Indonesia. Yogyakarta.
Oemi, H.S, 2000. Pemuliaan Pohon Hutan Indoensia Menghadapi Tantangan Abad 21. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Oemi, H.S, 2001. Peletakan Dasar-Dasar dan Strategi Pemuliaan Pohon Hutan di Indoensia. Orasi Ilmiah Purna Tugas. Prof. Dr. Ir. Hj. Oemi Hani’in Suseno. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
 Rachman, E, M. Yamin Mile dan Budiman Achmad.  2005.  Analisis Jenis - Jenis Kayu Potensial Untuk Hutan Rakyat Di Jawa Barat.  Balai Penelitian Kehutanan Ciamis.
Wright, J.W, 1976, Introduction to Forest Genetics, Academic Press Inc.,New York, San Fransisco, London.
Wright, J.W, 1976. Introduction to Forest Genetiks. Academic Press, Inc. San Diego California.
Young, A., D Boshier and T. Boyle.  2005.  Forest Conservation Genetiks, Principles and Practice.  CABI Publishing. United Kingdom
Zobel, B and John Talbert, 1984. Applied Forest Tree Improvement. John Wiley and Sons, Canada.
Zobel, B.J and J.T. Talbert. 1984. Applied Forest Tree Improvement. John Wiley & Sons Inc. Canada.



[1] Paper disusun  terkait topik  aspek breeding dalam mendukung pertumbuhan dan kualitas kayu pada saat ini dan akan datang
[2] Mahasiswa Pascasarjana IPB Program Doktor pada Mayor Silvikultur Tropika

Tidak ada komentar: